Pages

Kamis, 21 November 2013

Layanan Pendidikan



Sesuai dengan kondisi penyandang tunanetra yang sedemikian rupa, maka layanan pendidikan yang diberikan harus disesuaikan dengan keadaannya. Adapaun layanan pendidikan yang ada bagi tunanetra meliputi:
1.        Pendidikan Terpadu
Model pendidikan terpadu bagi tunanetra merupakan pelopor model pendidikan bagi anak-anak berkelainan di Indonesia. Pendidikan terpadu bagi tunanetra dapat dilakukan mulai dari kelas awal sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pada pendidikan terpadu tunanetra yaitu sekolah formal yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi tunanetra bersama-sama dengan anak-anak normal. Sistem ini dilengkapi dengan adanya kelas sumber (resources class) dan kurikulum plus, pada kelas sumber siswa tunanetra di bawah bimbingan guru pembimbing khusus belajar tentang

Senin, 18 November 2013

Karakteristik Individu Tunanetra



Individu tunanetra memiliki karakteristik berbeda-beda yang perlu dipahami agar bisa mendapatkan penanganan khusus yang sesuai dengan kondisi individu tersebut.
Karakteristik individu tunanetra ditinjau dari aspek akademik, pribadi dan sosial, serta fisik dan motorik.
1.        Aspek akademik
Tilman & Osborn (1969) menemukan beberapa perbedaan antara individu tunanetra dan individu awas.
a.         Individu tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus, seperti halnya individu awas, namun pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan.

Minggu, 17 November 2013

Identifikasi dan Diagnosis



Seseorang dapat diidentifikasikan sebagai tunanetra berdasarkan kriteria tunanetra atau pengertian tunanetra yang telah dirumuskan di atas melalui berbagai cara dan tahapan. Tahap pertama adalah identifikasi atau sering disebut dengan penjaringan. Untuk keperluan identifikasi bagi anak buta total sudah begitu jelas, tetapi bagi mereka yang mengalami buta sebagian (low vision) dalam langkah diagnosisnya dapat mengikuti alur berikut:
1.        Identifikasi oleh Guru atau Orang Tua
Pengamatan guru difokuskan pada indikator berikut:

Perkembangan Sosial Anak Tunanetra



Perkembangan sosial berarti dikuasainya seperangkat kemampuan untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Bagi anak tunanetra penguasaan seperangkat kemampuan bertingkah laku tersebut tidaklah mudah. Dibandingkan dengan anak awas, anak tunanetra relatif lebih banyak menghadapi masalah dalam perkembangan sosial. Hambatan-hambatan tersebut terutama muncul sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari ketunanetraannya. Kurangnya motivasi, ketakutan menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas atau baru, perasaan-perasaan rendah diri, malu, sikap-sikap masyarakat yang

Perkembangan Emosi Anak Tunanetra



Salah satu variabel determinan perkembangan emosi adalah variabel organisme, yaitu perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi bila seseorang mengalami emosi. Sedangkan variabel lainnya ialah stimulus atau rangsangan yang menimbulkan emosi, serta respon atau jawaban terhadap rangsangan emosi yang datang dari lingkungannya. Secara umum dari ketiga variabel tersebut yang tidak dapat diubah oleh pendidikan adalah variabel organisme.
Perkembangan emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami hambatan dibandingkan dengan

Perkembangan Kognitif Anak Tunanetra



Akibat dari ketunanetraannya, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar anak tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Akibatnya perkembangan kognitif anak tunanetra ceenderung terhambat dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya. Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif tidak saja erat kaitannya dengan kecerdasan atau kemampuan intelegensinya, tetapi juga dengan kemampuan indra penglihatan.
Kecenderungan anak tunanetra menggantikan indra penglihatan dengan indra pendengaran sebagai saluran utama penerima informasi dari luar, mengakibatkan

Perkembangan Motorik Anak Tunanetra



Perkembangan motorik anak tunanetra cenderung terlambat dibandingkan dengan anak awas pada umumnya. Kelambatan ini dikarenakan dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan adanya koordinasi fungsional antara neuromuscular system (sistem persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, dankonatif), serta kesempatan yang diberikan oleh lingkungan. Pada anak tunanetra mungkin fungsi neuromuscular systemnya tidak masalah, tetapi karena fungsi psikisnya kurang mendukung, menjadikan hambatan tersendiri dalam perkembangan motoriknya. Secara fisik mungkin anak mampu mencapai kematangan sama dengan anak awas pada umumnya, tetapi dikarenakan

Jumat, 25 Oktober 2013

Faktor-faktor Penyebab Ketunanetraan




Secara ilmiah, ketunanetraan pada individu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik itu faktor dalam diri individu (internal) maupun faktor dari luar individu (eksternal).
Faktor internal (prenatal) yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan. Kemungkinannya karena faktor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat, pengaruh alat bantu medis, si ibu terkena infeksi maternal (rubella atau campak german).
Faktor eksternal ialah