Seseorang
dapat diidentifikasikan sebagai tunanetra berdasarkan kriteria tunanetra atau
pengertian tunanetra yang telah dirumuskan di atas melalui berbagai cara dan
tahapan. Tahap pertama adalah identifikasi atau sering disebut dengan
penjaringan. Untuk keperluan identifikasi bagi anak buta total sudah begitu
jelas, tetapi bagi mereka yang mengalami buta sebagian (low vision) dalam langkah diagnosisnya dapat mengikuti alur
berikut:
1.
Identifikasi oleh Guru atau Orang Tua
a.
Anak sering menggosok-gosok mata
b.
Melihat benda atau membaca terlalu dekat
c.
Sering mengedipkan mata atau mengerutkan
dahi
d.
Sering mengeluh dengan penglihatannya
e.
Mata terlihat memerah atau bengkak
2.
Diagnosis oleh Ahli Mata (Opthalmologist)
Setelah diidentifikasi dan diduga
anak mengalami kelainan penglihatan maka selanjutnya diperiksa oleh ahlil mata
atau opthalmologist. Diagnosis ini
dimaksudkan untuk mengetahui kelainan penglihatan anak apakah masih dapat
dikoreksi atau tidak, dan juga jenis kelainannya. Untuk melihat tingkat
ketajaman penglihatan biasanya digunakan Snellen Chart. Untuk kelainan lensa
mata digunakan dengan tes lensa positif atau negatif yang akan menghasilkan
atau menemukan kelainan miopia. Keseimbangan (balance) dan mootorik bola mata digunakan lensa Maddox Rode,
stereoscope, atau menggunakan warna untuk menunjukkan bayang warna yang
berbeda.
Sumber:
Purwanto, Heri. (1998). Ortopedagogik Umum. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta. Yogyakarta.

artikelnya bagus, menarik untuk dibaca, dan sangat bermanfaat untuk saya :D
BalasHapusterimakasih, semuga bermanfaat juga buat orang lain selain aku hehe
BalasHapus