Pages

Minggu, 17 November 2013

Perkembangan Emosi Anak Tunanetra



Salah satu variabel determinan perkembangan emosi adalah variabel organisme, yaitu perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi bila seseorang mengalami emosi. Sedangkan variabel lainnya ialah stimulus atau rangsangan yang menimbulkan emosi, serta respon atau jawaban terhadap rangsangan emosi yang datang dari lingkungannya. Secara umum dari ketiga variabel tersebut yang tidak dapat diubah oleh pendidikan adalah variabel organisme.
Perkembangan emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami hambatan dibandingkan dengan
anak yang awas. Keterlambatan ini terutama disebabkan karena anak tunanetra memiliki kemampuan yang terbatas dalam proses belajarnya.
Perkembangan emosi anak tunanetra akan semakin terhambat bila anak tersebut mengalami deprivasi emosi, yaitu keadaan di mana anak tunanetra tersebut kurang kesempatan untuk menghayati pengalaman emosional yang menyenangkan, seperti kasih sayang, kegembiraan, perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra yang cenderung mengalami deprivasi emosi ini terutama adalah anak-anak yang pada masa awal kehidupan atau perkembangannya ditolak kehadirannya oleh lingkungan keluarga atau lingkungannya. Deprivasi ini akan sangat berpengaruh terhadap aspek perkembangan yang lainnya, seperti kelambatan dalam perkembangan fisik, motorik, bicara, intelektual,dan sosialnya. Di samping itu, ada kecenderungan bahwa anak tunanetra yang dalam masa awal perkembangannya mengalami deprivasi emosi, akan bersikap menarik diri, serta sangat menuntut pertolongan ataupun perhatian, dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.
Sekalipun anak tunanetra tidak mampu meliahat lingkungannya, nmaun perasaan malu sering kali menghinggapi mereka. Hal ini terutama dalam memasuki dunia yang masih asing baginya. Sifat ini sering kali disebabkan karena keluarbiasaannya serta sebagai reaksi terhadap ketidaktahuan dan ketidakpastian reaksi orang lain terhadap diri dan perilakunya. Sedangkan perasaan khawatir dan cemas seringkali menghinggapi anak tunanetra sebagai akibat dari ketidakmampuan atau keterbatasan dalam memprediksikan dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lingkungannya dan menimpa dirinya. Sedangkan perasaan iri hati biasanya muncul karena kurang atau hilangnya kasih sayang dari lingkungannya. Biasanya tumbuh dan berkembang dari reaksi lingkungan terhadap dirinya yang ternyata diperlakukan secara berbeda karena kecacatannya.

Sumber:
Soemantri S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar