Perkembangan
emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami hambatan dibandingkan dengan
anak yang awas. Keterlambatan ini terutama disebabkan karena anak tunanetra memiliki kemampuan yang terbatas dalam proses belajarnya.
anak yang awas. Keterlambatan ini terutama disebabkan karena anak tunanetra memiliki kemampuan yang terbatas dalam proses belajarnya.
Perkembangan
emosi anak tunanetra akan semakin terhambat bila anak tersebut mengalami
deprivasi emosi, yaitu keadaan di mana anak tunanetra tersebut kurang
kesempatan untuk menghayati pengalaman emosional yang menyenangkan, seperti
kasih sayang, kegembiraan, perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra yang
cenderung mengalami deprivasi emosi ini terutama adalah anak-anak yang pada
masa awal kehidupan atau perkembangannya ditolak kehadirannya oleh lingkungan
keluarga atau lingkungannya. Deprivasi ini akan sangat berpengaruh terhadap
aspek perkembangan yang lainnya, seperti kelambatan dalam perkembangan fisik,
motorik, bicara, intelektual,dan sosialnya. Di samping itu, ada kecenderungan
bahwa anak tunanetra yang dalam masa awal perkembangannya mengalami deprivasi
emosi, akan bersikap menarik diri, serta sangat menuntut pertolongan ataupun
perhatian, dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.
Sekalipun
anak tunanetra tidak mampu meliahat lingkungannya, nmaun perasaan malu sering kali
menghinggapi mereka. Hal ini terutama dalam memasuki dunia yang masih asing
baginya. Sifat ini sering kali disebabkan karena keluarbiasaannya serta sebagai
reaksi terhadap ketidaktahuan dan ketidakpastian reaksi orang lain terhadap diri
dan perilakunya. Sedangkan perasaan khawatir dan cemas seringkali menghinggapi
anak tunanetra sebagai akibat dari ketidakmampuan atau keterbatasan dalam
memprediksikan dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di
lingkungannya dan menimpa dirinya. Sedangkan perasaan iri hati biasanya muncul
karena kurang atau hilangnya kasih sayang dari lingkungannya. Biasanya tumbuh
dan berkembang dari reaksi lingkungan terhadap dirinya yang ternyata
diperlakukan secara berbeda karena kecacatannya.
Sumber:
Soemantri S.
(1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru.
Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar