Secara ilmiah,
ketunanetraan pada individu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik itu
faktor dalam diri individu (internal) maupun
faktor dari luar individu (eksternal).
Faktor
internal (prenatal)
yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih
dalam kandungan. Kemungkinannya karena faktor gen (sifat pembawa keturunan),
kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat, pengaruh alat bantu medis,
si ibu terkena infeksi maternal (rubella atau campak german).
Faktor
eksternal ialah
faktor-faktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Contoh penyebab ketunanetraan pada saat kelahiran (natal), yakni si ibu hamil menderita penyakit Gonnorhoe, sehingga ketika si anak lahir matanya tercemari kuman Nisseria Gonnorhoe. Penyebab ketunanetraan setelah kelahiran (postnatal), antara lain:
faktor-faktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Contoh penyebab ketunanetraan pada saat kelahiran (natal), yakni si ibu hamil menderita penyakit Gonnorhoe, sehingga ketika si anak lahir matanya tercemari kuman Nisseria Gonnorhoe. Penyebab ketunanetraan setelah kelahiran (postnatal), antara lain:
1.
Kecelakaan
Apabila
kecelakaan tersebut terjadi benturan atau tekanan keras lalu mengenai mata atau
syaraf mata maka dapat menyebabkan gangguan penglihatan, bahkan ketunanetraan.
Hal tersebut pernah terjadi pada salah seorang mahasiswa UPI. Ia menjadi
tunanetra karena pada saat ia berumur 6 tahun, matanya terkena ketepel (Sunda)
yang sangat keras waktu bermain dengan temannya.
2.
Pengaruh
alat bantu medis (tang)
3.
Kurang
gizi atau vitamin A
Vitamin
A berperan dalam ketahanan tubuh terhadap infeksi. Dengan adanya vitamin A,
tubuh lebih efisien dalam menyerap protein yang dikonsumsi. Kekurangan vitamin
A akan menyebabkan kerusakan pada matanya, yaitu kerusakan pada sensitivitas
retina terhadap cahaya (rabun senja) dan terjadi kekeringan pada konjungtiva
bulbi yang terdapat pada celah kelopak mata, disertai pengerasan dan penebalan
pada epitel. Pada saat mata bergerak, akan tampak lipatan pada konjungtiva
bulbi. Dalam keadaan parah, hal tersebut dapat merusak retina, dan apabila
keadaan ini tetap dibiarkan, akan terjadi ketunanetraan.
4.
Terkena
racun atau zat kimia
Disamping memberikan manfaat bagi manusia, zat-zat
kimia juga dapat merusak apabila penggunaanya tidak hati-hati. Zat kimia
tertentu, seperti zat etanol dan aseton, apabila mengenai kornea, akan
mengakibatkan kering dan terasa sakit. Selain itu zat-zat lain, seperti asam
sulfat dan asam tannat yang mengenai kornea, akan menimbulkan kerusakan, bahkan
dapat menyebabkan ketunanetraan.
5.
Panas
badan yanga terlalu tinggi
6.
Terkena
penyakit infeksi, seperti Trachoma, Conyungtivitis, Retino blastoma, Pertusis
Retinoblastoma merupakan tumor ganas
yang terjadi pada retina, dan sering ditemukan pada anak-anak. Gejala yang
dapat dicurigai dari penyakit tersebut, antara lain menonjolnya bola mata,
adanya bercak putih pada pupil, strabismus (juling), glaucoma, mata sering
merah atau penglihatannya terus menurun.
Sumber :
Soemantri S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta.
Sumber :
Soemantri S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar