Pages

Minggu, 17 November 2013

Perkembangan Motorik Anak Tunanetra



Perkembangan motorik anak tunanetra cenderung terlambat dibandingkan dengan anak awas pada umumnya. Kelambatan ini dikarenakan dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan adanya koordinasi fungsional antara neuromuscular system (sistem persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, dankonatif), serta kesempatan yang diberikan oleh lingkungan. Pada anak tunanetra mungkin fungsi neuromuscular systemnya tidak masalah, tetapi karena fungsi psikisnya kurang mendukung, menjadikan hambatan tersendiri dalam perkembangan motoriknya. Secara fisik mungkin anak mampu mencapai kematangan sama dengan anak awas pada umumnya, tetapi dikarenakan
fungsi psikisnya, seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan adanya bahaya dan cara-cara menghadapi, serta ketrampilan gerak, yang semua serba terbatas, serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas gerak motorik. Hambatan dalam fungsi psikis ini secara langsung atau tidak langsung terutama berpangkal dari ketidakmampuannya dalam melihat.
Suatu studi singkat tentang perkembangan bayi normal membuktikan bahwa fungsi mata memegang peranan yang cukup berarti dalam memberikan rangsangan terhadap perkembangan perilaku motorik. Karenanya pada bayi tunanetra perlu diperhatikan upaya-upaya untuk melengkapi kekurangan rangsangan visualnya. Berikut adalah tahap perkembangan perilaku motorik permulaan dalam kaitannya dengan fungsi penglihatan.
1.        Tahap Sebelum Berjalan
Pertumbuhan dan perkembangan jasmani bersifat chepalocaudal atau mulai dari kepala ke arah kaki. Anak tunanetra juga mengikuti pola perkembangan perilaku motorik yang sama, hanya faktor kecepatannya yang berbeda sebagai akibat dari kurangnya rangsangan visual. Akibat ketunanetraannya tersebut, maka gangguan atau hambatan yang terjadi dalam perkembangan koordinasi tangan dan badan akan berpengaruh pada perilaku motorik tunanetra kemudian (setelah dewasa).
a.         Koordinasi tangan
Koordinasi tangan yang baik diperoleh melalui pengalaman dan percobaan kerjasama mata dan tangan seja dini. Pada bayi tunanetra, hal tersebut tidak dialami dengan sendirinya. Mereka tidak mengetahui apa yang ada di sekelilingnya, karenanya cenderung diam dan tidak responsif. Karena itu perlu diciptakan suatu lingkungan tersendiri sebagai pengalaman pengganti yang mampu merangsang perkembangan gerak tunanetra sekaligus mengurangi keterhambatan perkembangan ini.
b.         Koordinasi badan
Pada bayi tunanetra, kesempatan seperti menegakkan kepalanya, menatap, dan memotivasi untuk ingin merayap, meraih, memegang, atau mengambilnya. Karenanya tanpa adanya pengalaman pengganti tidak mungkin anak akan termotivasi untuk melakukan aktivitas seperti ini. Bayi tunanetra cenderung diam atau mengadakan gerakan-gerakan yang kurang berarti, yang kemudian disebut dengan Blindism, seperti menusuk-nusuk mata,dengan jarinya, mengangguk-anggukkan kepala, menggoyang-goyangkan kakinya, atau sejenisnya yang umumnya kurang sedap untuk dipandang. Tanpa disadari kebiasaan terhadap gerakan-gerakan ini, biasanya terbawa hingga ia dewasa.
2.        Tahap Berjalan
Pada anak tunanetra dalam usia yang sama sangat kecil kemungkinannya dapat bergerak sama dengan anak awas. Ia akan berjalan pada usia yang lebih tua dari usia anak awas, hal ini karena kurangnya motivasi atau pendorong baik yang sifatnya internal maupun eksternal untuk melangkahkan kakinya pada posisi berdiri dengan maksud mengambil benda-benda di sekitarnya.
Salah satu keterbatasan yang paling menonjol pada anak tunanerta ialah kemampuan dalam melakukan mobilitas (kemampuan berpindah-pindah tempat). Namun, demikian kekurangmampuan ini dapat diminimalkan melalui manipulasi lingkungan tempat tunanetra berada, yaitu melalui penciptaan lingkungan yang lebih berarti yang memungkinkan anak tunanetra mampu mengembangkan pertumbuhan jasmani dan geraknya secara bebas dan aman.
Berdasarkan uraian di atas, maka hambatan-hambatan dalam perkembangan motorik anak tunanetra berhubungan erat dengan ketidakmampuannya dalam penglihatannya yang selanjutnya berpengaruh terhadap faktor psikis dan fisik anak. Manifestasinya tampak pada bagaimana cara berjalan dan menggerakkan tangannya. Pada saat berjalan, kita jumpai bahwa anak tunanetra seing tampak kaku, tegang, lamban atau pelan, disertai dengan perasaan was-was dan penuh kehati-hatian, begitu pula pada saat anak menggunakan tangannya untuk melakukan sesuatu aktivitas tertentu yang belum familiar, serta gerakan-gerakan tubuh yang kurang harmonis.

Sumber: 
Soemantri S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar