Perkembangan
motorik anak tunanetra cenderung terlambat dibandingkan dengan anak awas pada
umumnya. Kelambatan ini dikarenakan dalam perkembangan perilaku motorik
diperlukan adanya koordinasi fungsional antara neuromuscular system (sistem persyarafan dan otot) dan fungsi
psikis (kognitif, afektif, dankonatif), serta kesempatan yang diberikan oleh
lingkungan. Pada anak tunanetra mungkin fungsi neuromuscular systemnya tidak masalah, tetapi karena fungsi
psikisnya kurang mendukung, menjadikan hambatan tersendiri dalam perkembangan
motoriknya. Secara fisik mungkin anak mampu mencapai kematangan sama dengan
anak awas pada umumnya, tetapi dikarenakan
fungsi psikisnya, seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan adanya bahaya dan cara-cara menghadapi, serta ketrampilan gerak, yang semua serba terbatas, serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas gerak motorik. Hambatan dalam fungsi psikis ini secara langsung atau tidak langsung terutama berpangkal dari ketidakmampuannya dalam melihat.
fungsi psikisnya, seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan adanya bahaya dan cara-cara menghadapi, serta ketrampilan gerak, yang semua serba terbatas, serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas gerak motorik. Hambatan dalam fungsi psikis ini secara langsung atau tidak langsung terutama berpangkal dari ketidakmampuannya dalam melihat.
Suatu
studi singkat tentang perkembangan bayi normal membuktikan bahwa fungsi mata
memegang peranan yang cukup berarti dalam memberikan rangsangan terhadap perkembangan
perilaku motorik. Karenanya pada bayi tunanetra perlu diperhatikan upaya-upaya
untuk melengkapi kekurangan rangsangan visualnya. Berikut adalah tahap
perkembangan perilaku motorik permulaan dalam kaitannya dengan fungsi
penglihatan.
1.
Tahap Sebelum Berjalan
Pertumbuhan
dan perkembangan jasmani bersifat chepalocaudal
atau mulai dari kepala ke arah kaki. Anak tunanetra juga mengikuti pola
perkembangan perilaku motorik yang sama, hanya faktor kecepatannya yang berbeda
sebagai akibat dari kurangnya rangsangan visual. Akibat ketunanetraannya
tersebut, maka gangguan atau hambatan yang terjadi dalam perkembangan
koordinasi tangan dan badan akan berpengaruh pada perilaku motorik tunanetra
kemudian (setelah dewasa).
a.
Koordinasi tangan
Koordinasi
tangan yang baik diperoleh melalui pengalaman dan percobaan kerjasama mata dan
tangan seja dini. Pada bayi tunanetra, hal tersebut tidak dialami dengan
sendirinya. Mereka tidak mengetahui apa yang ada di sekelilingnya, karenanya
cenderung diam dan tidak responsif. Karena itu perlu diciptakan suatu
lingkungan tersendiri sebagai pengalaman pengganti yang mampu merangsang
perkembangan gerak tunanetra sekaligus mengurangi keterhambatan perkembangan
ini.
b.
Koordinasi badan
Pada bayi
tunanetra, kesempatan seperti menegakkan kepalanya, menatap, dan memotivasi
untuk ingin merayap, meraih, memegang, atau mengambilnya. Karenanya tanpa
adanya pengalaman pengganti tidak mungkin anak akan termotivasi untuk melakukan
aktivitas seperti ini. Bayi tunanetra cenderung diam atau mengadakan
gerakan-gerakan yang kurang berarti, yang kemudian disebut dengan Blindism,
seperti menusuk-nusuk mata,dengan jarinya, mengangguk-anggukkan kepala,
menggoyang-goyangkan kakinya, atau sejenisnya yang umumnya kurang sedap untuk
dipandang. Tanpa disadari kebiasaan terhadap gerakan-gerakan ini, biasanya
terbawa hingga ia dewasa.
2.
Tahap Berjalan
Pada
anak tunanetra dalam usia yang sama sangat kecil kemungkinannya dapat bergerak
sama dengan anak awas. Ia akan berjalan pada usia yang lebih tua dari usia anak
awas, hal ini karena kurangnya motivasi atau pendorong baik yang sifatnya
internal maupun eksternal untuk melangkahkan kakinya pada posisi berdiri dengan
maksud mengambil benda-benda di sekitarnya.
Salah
satu keterbatasan yang paling menonjol pada anak tunanerta ialah kemampuan
dalam melakukan mobilitas (kemampuan berpindah-pindah tempat). Namun, demikian
kekurangmampuan ini dapat diminimalkan melalui manipulasi lingkungan tempat
tunanetra berada, yaitu melalui penciptaan lingkungan yang lebih berarti yang
memungkinkan anak tunanetra mampu mengembangkan pertumbuhan jasmani dan
geraknya secara bebas dan aman.
Berdasarkan
uraian di atas, maka hambatan-hambatan dalam perkembangan motorik anak
tunanetra berhubungan erat dengan ketidakmampuannya dalam penglihatannya yang
selanjutnya berpengaruh terhadap faktor psikis dan fisik anak. Manifestasinya tampak
pada bagaimana cara berjalan dan menggerakkan tangannya. Pada saat berjalan,
kita jumpai bahwa anak tunanetra seing tampak kaku, tegang, lamban atau pelan,
disertai dengan perasaan was-was dan penuh kehati-hatian, begitu pula pada saat
anak menggunakan tangannya untuk melakukan sesuatu aktivitas tertentu yang
belum familiar, serta gerakan-gerakan tubuh yang kurang harmonis.
Sumber:
Soemantri S.
(1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru.
Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar