Pages

Minggu, 17 November 2013

Perkembangan Sosial Anak Tunanetra



Perkembangan sosial berarti dikuasainya seperangkat kemampuan untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Bagi anak tunanetra penguasaan seperangkat kemampuan bertingkah laku tersebut tidaklah mudah. Dibandingkan dengan anak awas, anak tunanetra relatif lebih banyak menghadapi masalah dalam perkembangan sosial. Hambatan-hambatan tersebut terutama muncul sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari ketunanetraannya. Kurangnya motivasi, ketakutan menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas atau baru, perasaan-perasaan rendah diri, malu, sikap-sikap masyarakat yang
sering kali tidak menguntungkan seperti penolakan, penghinaan, dan tak acuh, ketidakjelasan tuntutan sosial, serta terbatasnya kesempatan bagi anak untuk belajar tentang pola-pola tingkah laku yang diterima, merupakan kecenderungan tunanetra yang dapat mengakibatkan perkembangan sosialnya menjadi terhambat. Kesulitan lain dalam melaksanakan tugas perkembangan sosial ini ialah katerbatasan anak tunanetra untuk dapat belajar sosial melalui proses identifikasi dan imitasi. Ia juga memiliki keterbatasan untuk mengikuti bentuk-bentuk permainan sebagai wahana penyerapan norma-norma atau aturan-aturan dalam bersosialisasi.
Pengalaman sosial anak tunanetra pada usia dini yang tidak menyenangkan sebagai akibat dari sikap dan perlakuan negatif orang tua dan keluarganya, akan sangat merugikan perkembangan anak tunanetra. Hal ini karena usia tersebut merupakan masa-masa kritis di mana pengalaman-pengalaman dasar sosial yang terbentuk pada masa itu akan sulit untuk dirubah dan terbawa sampai ia dewasa. Anak tunanetra yang mengalami pengalaman sosial yang menyakitkan pada usia dini dan cenderung akan mennunjukkan perilaku-perilaku yang menghindar atau menolak partisipasi sosial atau pemilikan siakp sosial yang negatif pada tahapan perkembangan berikutnya. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam perkembangan sosial anak tunanetra tampaknya perlu diperhatikan tentang sikap dan perlakuan orang tua dan keluarga tunanetra terutama pada usia dini.
Perkembangan sosial anak tunanetra sangat bergantung kepada bagaimana perlakuan dan penerimaan lingkungan, terutama lingkungan keluarga terhadap anak tunanetra itu sendiri. Akibat ketunanetraan secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak, seperti keterbatasan anak untuk belajar sosial melalui identifikasi maupun imitasi, keterbatasan lingkungan yang dapat dimasuki anak untuk memenuhi kebutuhan sosialnya, serta adanya faktor-faktor psikologis yang menghambat keinginan anak untuk memasuki lingkungan sosialnya secara bebas dan aman.


Sumber:
Soemantri S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar