Pages

Minggu, 17 November 2013

Identifikasi dan Diagnosis



Seseorang dapat diidentifikasikan sebagai tunanetra berdasarkan kriteria tunanetra atau pengertian tunanetra yang telah dirumuskan di atas melalui berbagai cara dan tahapan. Tahap pertama adalah identifikasi atau sering disebut dengan penjaringan. Untuk keperluan identifikasi bagi anak buta total sudah begitu jelas, tetapi bagi mereka yang mengalami buta sebagian (low vision) dalam langkah diagnosisnya dapat mengikuti alur berikut:
1.        Identifikasi oleh Guru atau Orang Tua
Pengamatan guru difokuskan pada indikator berikut:
a.         Anak sering menggosok-gosok mata
b.         Melihat benda atau membaca terlalu dekat
c.         Sering mengedipkan mata atau mengerutkan dahi
d.        Sering mengeluh dengan penglihatannya
e.         Mata terlihat memerah atau bengkak
2.        Diagnosis oleh Ahli Mata (Opthalmologist)
Setelah diidentifikasi dan diduga anak mengalami kelainan penglihatan maka selanjutnya diperiksa oleh ahlil mata atau opthalmologist. Diagnosis ini dimaksudkan untuk mengetahui kelainan penglihatan anak apakah masih dapat dikoreksi atau tidak, dan juga jenis kelainannya. Untuk melihat tingkat ketajaman penglihatan biasanya digunakan Snellen Chart. Untuk kelainan lensa mata digunakan dengan tes lensa positif atau negatif yang akan menghasilkan atau menemukan kelainan miopia. Keseimbangan (balance) dan mootorik bola mata digunakan lensa Maddox Rode, stereoscope, atau menggunakan warna untuk menunjukkan bayang warna yang berbeda.


Sumber:
Purwanto, Heri. (1998). Ortopedagogik Umum. Institut Keguruan  dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta. Yogyakarta.

2 komentar:

  1. artikelnya bagus, menarik untuk dibaca, dan sangat bermanfaat untuk saya :D

    BalasHapus
  2. terimakasih, semuga bermanfaat juga buat orang lain selain aku hehe

    BalasHapus