Akibat dari
ketunanetraannya, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar anak
tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Akibatnya perkembangan kognitif
anak tunanetra ceenderung terhambat dibandingkan dengan anak-anak normal pada
umumnya. Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif tidak saja erat kaitannya
dengan kecerdasan atau kemampuan intelegensinya, tetapi juga dengan kemampuan
indra penglihatan.
Kecenderungan
anak tunanetra menggantikan indra penglihatan dengan indra pendengaran sebagai saluran utama penerima informasi dari
luar, mengakibatkan
pembentukan pengeartian atau konsep hanya berdasarkan pada suara atau bahasa lisan. Akibatnya, sering kali tidak menguntungkan bagi anak, yaitu kecenderungan pada anak tunanetra untuk menggunakan kata-kata atau bahasa tanpa tahu makna yang sebenarnya. Sehingga sering kali dikatakan bahwa anak tunanetra itu tahu, tetapi sebenarnya tidak tahu. Karena tahunya sebatas pengetahuan verbal. Untuk itu, dalam pendidikan bagi anak tunanetra kiranya perlu diwaspadai adanya kesukaran-kesukaran besar dalam pembentukan pengertian atau konsep terutama terhadap peengalaman-pengalaman konkrit dan fungsional yang diperlukan bagi anak yang diperlukan sehari-hari.
pembentukan pengeartian atau konsep hanya berdasarkan pada suara atau bahasa lisan. Akibatnya, sering kali tidak menguntungkan bagi anak, yaitu kecenderungan pada anak tunanetra untuk menggunakan kata-kata atau bahasa tanpa tahu makna yang sebenarnya. Sehingga sering kali dikatakan bahwa anak tunanetra itu tahu, tetapi sebenarnya tidak tahu. Karena tahunya sebatas pengetahuan verbal. Untuk itu, dalam pendidikan bagi anak tunanetra kiranya perlu diwaspadai adanya kesukaran-kesukaran besar dalam pembentukan pengertian atau konsep terutama terhadap peengalaman-pengalaman konkrit dan fungsional yang diperlukan bagi anak yang diperlukan sehari-hari.
Dikarenakan
kurangnya stimuli visual, perkembangan bahasa anak tunanetra juga tertinggal
dibanding anak awas. Pada anak tunanetra kemampuan kosakata terbagi atas dua
golongan, yaitu kata-kata yang berarti bagi dirinya berdasarkan pengalamannya
sendiri dan kata-kata verbalistis yang diperolehnya dari orang lai, di mana ia
sendiri sering tidak memahaminya. Komunikasi nonverbal pada tunanetra juga
merupakan hal yang kurang dipahaminya, karena kemampuan ini sangat tergantung
pada stimuli visual dari lingkungannya. Dalam hal pemahaman bahasa, berbagai
hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan anak awas, kosakata anak tunanetra
cenderung bersifat definitif, anak awas cenderung lebih luas. Seperti halnya
anak awas, anak tunanetra dapat mempertahankan pengalaman-pengalaman khusus
tetapi kurang terintegrasi. Anak tunanetra juga cenderung menghadapi masalah
konseptualisasi yang abstrak berdasar pandangan yang konkrit dan fungsional.
Menurut
Piaget, perkembangan fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip mencari
keseimbangan (seeking equilibrium), yaitu kegiatan organisme dan lingkungan
yang bersifat timbal balik. Artinya, lingkungan dipandang sebagai suatu hal
yang terus menerus mendorong organisme untuk menyesuaikan diri dan demikian
pula secara timbal balik organisme secara konstan menghadapi lingkungannya
sebagai suatu struktur yang merupakan bagian dari dirinya. Tekniknya ialah
dengan asimilasi dan akomodasi. Teknik asimilasi yaitu apabila individu
memandang bahwa hal-hal baru yang dihadapinya dapat disesuaikan dengan kerangka
berpikir atau cognitif stucture yang telah dimilikinya. Teknik akomodasi yaitu
apabila individu itu memandang bahwa hal-hal baru yang dihadapinya tidak dapat
disesuaikan dengan kerangka berpikirnya sehingga harus mengubah cognitif
structure-nya.
Perkembangan
kognitif anak tunanetra terdiri dari beberapa tahap:
1. Tahap sensori motor, ditandai dengan
penggunaan sensori motorik dalam pengamatan dan pengindraan yang intensif
terhadap dunia sekitarnya, pada anak tunanetra prestasi intelektual dalam
perkembangan bahasa mungkin bukan masalah besar, asal lingkungan memberikan
stimuli yang kuat dan intensif terhadap anak.
2. Tahap praoperasional, ditandai dengan
cara berpikir yang bersifat tranduktif
(menarik kesimpulan) tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal yang khusus,t
se sapi disebut kerbau, serta doominasi pengamatan yang bersifat egosentris
(belum memahami cara orang memandang objek yang sama), bersifat searah, maka
pada anak tunanetra cenderung mengalami hambatan atau kesulitan dalam cara-cara
berpikir seperti itu.
3. Tahap operasional konkrit, ditandai
dengan kemampuannya dalam mengklasifikasikan, menyusun, mengasosiasikan
angka-angka atau bilangan, serta proses berpikir untuk mengoperasikan
kaidah-kaidah logika walaupun masih
terikat dengan objek-objek yang bersifat konkrit, maka bagi anak tunanetra
dalam batas-batas tertentu mungkin dapat dilakukan, namun secara umum akan
sulit.
4. Tahap operasi formal,
ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah formal yang tidak
terikat lagi dengan objek-objek yang bersifat konkrit, seperti kemampuan
berpikir hipotesis deduktif (hyypothetic deductive thinking), mengembangkan
suatu kemungkinan berdasar dua atau lebih kemungkinan (a combination thinking),
mengembangkan suatu proposisi atau dasar-dasar proposisi yang diketahui
(propositional thinking), serta kemampuan menarik generalisasi dan inferensi
dari berbagai kategori objek yang bervariasi, maka pada anak tunanetra dalam
hal-hal tertentu kemungkinan dapat dilakukan dengan baik, walaupun sifatnya
sangat verbalistis.
Sumber:
Soemantri S.
(1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru.
Jakarta.

terimakasi informasinya sangat membantu sekali dallam tugas akhir saya dalam pembuatan mini skripsi :)
BalasHapusperkenalkan nama saya mesa nur sabilla mahasiswa universitas pendidikan indonesia.fakultas ilmu pendidikan. jurusan pendidikan khusus 2013
:)