Pages

Minggu, 17 November 2013

Perkembangan Kognitif Anak Tunanetra



Akibat dari ketunanetraannya, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar anak tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Akibatnya perkembangan kognitif anak tunanetra ceenderung terhambat dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya. Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif tidak saja erat kaitannya dengan kecerdasan atau kemampuan intelegensinya, tetapi juga dengan kemampuan indra penglihatan.
Kecenderungan anak tunanetra menggantikan indra penglihatan dengan indra pendengaran sebagai saluran utama penerima informasi dari luar, mengakibatkan
pembentukan pengeartian atau konsep hanya berdasarkan pada suara atau bahasa lisan. Akibatnya, sering kali tidak menguntungkan bagi anak, yaitu kecenderungan pada anak tunanetra untuk menggunakan kata-kata atau bahasa tanpa tahu makna yang sebenarnya. Sehingga sering kali dikatakan bahwa anak tunanetra itu tahu, tetapi sebenarnya tidak tahu. Karena tahunya sebatas pengetahuan verbal. Untuk itu, dalam pendidikan bagi anak tunanetra kiranya perlu diwaspadai adanya kesukaran-kesukaran besar dalam pembentukan pengertian atau konsep terutama terhadap peengalaman-pengalaman konkrit dan fungsional yang diperlukan bagi anak yang diperlukan sehari-hari.
Dikarenakan kurangnya stimuli visual, perkembangan bahasa anak tunanetra juga tertinggal dibanding anak awas. Pada anak tunanetra kemampuan kosakata terbagi atas dua golongan, yaitu kata-kata yang berarti bagi dirinya berdasarkan pengalamannya sendiri dan kata-kata verbalistis yang diperolehnya dari orang lai, di mana ia sendiri sering tidak memahaminya. Komunikasi nonverbal pada tunanetra juga merupakan hal yang kurang dipahaminya, karena kemampuan ini sangat tergantung pada stimuli visual dari lingkungannya. Dalam hal pemahaman bahasa, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan anak awas, kosakata anak tunanetra cenderung bersifat definitif, anak awas cenderung lebih luas. Seperti halnya anak awas, anak tunanetra dapat mempertahankan pengalaman-pengalaman khusus tetapi kurang terintegrasi. Anak tunanetra juga cenderung menghadapi masalah konseptualisasi yang abstrak berdasar pandangan yang konkrit dan fungsional.
Menurut Piaget, perkembangan fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip mencari keseimbangan (seeking equilibrium), yaitu kegiatan organisme dan lingkungan yang bersifat timbal balik. Artinya, lingkungan dipandang sebagai suatu hal yang terus menerus mendorong organisme untuk menyesuaikan diri dan demikian pula secara timbal balik organisme secara konstan menghadapi lingkungannya sebagai suatu struktur yang merupakan bagian dari dirinya. Tekniknya ialah dengan asimilasi dan akomodasi. Teknik asimilasi yaitu apabila individu memandang bahwa hal-hal baru yang dihadapinya dapat disesuaikan dengan kerangka berpikir atau cognitif stucture yang telah dimilikinya. Teknik akomodasi yaitu apabila individu itu memandang bahwa hal-hal baru yang dihadapinya tidak dapat disesuaikan dengan kerangka berpikirnya sehingga harus mengubah cognitif structure-nya.
Perkembangan kognitif anak tunanetra terdiri dari beberapa tahap:
1.      Tahap sensori motor, ditandai dengan penggunaan sensori motorik dalam pengamatan dan pengindraan yang intensif terhadap dunia sekitarnya, pada anak tunanetra prestasi intelektual dalam perkembangan bahasa mungkin bukan masalah besar, asal lingkungan memberikan stimuli yang kuat dan intensif terhadap anak.
2.   Tahap praoperasional, ditandai dengan cara berpikir  yang bersifat tranduktif (menarik kesimpulan) tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal yang khusus,t se sapi disebut kerbau, serta doominasi pengamatan yang bersifat egosentris (belum memahami cara orang memandang objek yang sama), bersifat searah, maka pada anak tunanetra cenderung mengalami hambatan atau kesulitan dalam cara-cara berpikir seperti itu.
3.  Tahap operasional konkrit, ditandai dengan kemampuannya dalam mengklasifikasikan, menyusun, mengasosiasikan angka-angka atau bilangan, serta proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika walaupun  masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkrit, maka bagi anak tunanetra dalam batas-batas tertentu mungkin dapat dilakukan, namun secara umum akan sulit. 
4.   Tahap operasi formal, ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah formal yang tidak terikat lagi dengan objek-objek yang bersifat konkrit, seperti kemampuan berpikir hipotesis deduktif (hyypothetic deductive thinking), mengembangkan suatu kemungkinan berdasar dua atau lebih kemungkinan (a combination thinking), mengembangkan suatu proposisi atau dasar-dasar proposisi yang diketahui (propositional thinking), serta kemampuan menarik generalisasi dan inferensi dari berbagai kategori objek yang bervariasi, maka pada anak tunanetra dalam hal-hal tertentu kemungkinan dapat dilakukan dengan baik, walaupun sifatnya sangat verbalistis.




Sumber:

Soemantri S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta.

1 komentar:

  1. terimakasi informasinya sangat membantu sekali dallam tugas akhir saya dalam pembuatan mini skripsi :)
    perkenalkan nama saya mesa nur sabilla mahasiswa universitas pendidikan indonesia.fakultas ilmu pendidikan. jurusan pendidikan khusus 2013
    :)

    BalasHapus